JAKARTA – Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan komputasi kuantum membawa tantangan baru bagi keamanan data. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan adanya ancaman pencurian data yang dilakukan sekarang untuk kemudian dibuka ketika teknologi sudah mampu memecahkan sistem enkripsi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut pola tersebut sebagai harvest now, decrypt later. Dalam pola ini, pelaku siber tidak harus langsung membaca data yang berhasil dicuri.
Data yang masih terenkripsi dapat disimpan terlebih dahulu. Ketika kemampuan komputasi di masa depan semakin kuat, data tersebut berpotensi didekripsi dan dimanfaatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Wamen Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, sebagaimana dikutip dari laman resmi Komdigi, Rabu (12/8/2026).
Menurut Nezar, pola tersebut membuat keamanan data perlu dipandang dalam jangka panjang. Sistem perlindungan yang aman terhadap kemampuan komputasi saat ini belum tentu mampu menghadapi perkembangan teknologi di masa mendatang.
Indonesia karena itu perlu mulai mempersiapkan sistem kriptografi yang dirancang untuk menghadapi ancaman komputasi kuantum.
“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegasnya.
Keamanan Harus Dirancang Sejak Awal
Ancaman siber yang semakin berkembang juga mendorong perubahan pendekatan dalam pembangunan sistem digital. Keamanan tidak lagi cukup ditempatkan sebagai lapisan tambahan setelah sistem selesai dibuat.
Pengalaman serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pelajaran penting bagi pemerintah dalam mengevaluasi arsitektur keamanan siber.
Nezar mengatakan prinsip security by design perlu diterapkan dengan memasukkan aspek keamanan sejak tahap perencanaan.
“Security harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata Wamen Nezar.
Pendekatan tersebut dinilai semakin penting karena perkembangan AI turut mengubah karakter ancaman siber.
AI Bisa Memperkuat Pertahanan, tetapi Juga Memperbesar Ancaman
AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pertahanan siber. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan oleh pelaku untuk meningkatkan kemampuan serangan.
Nezar menyoroti perkembangan agentic AI yang memungkinkan berbagai proses dilakukan secara lebih otomatis, termasuk dalam serangan siber.
“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.
Perubahan tersebut membuat ancaman siber berpotensi semakin cepat dan kompleks. Sistem pertahanan digital pun dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang.
Indonesia Masih Membutuhkan Talenta Digital
Selain memperkuat infrastruktur keamanan, Indonesia juga membutuhkan talenta yang memahami teknologi baru, termasuk AI dan keamanan siber.
Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta digital Indonesia mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030. Sementara kemampuan menghasilkan talenta saat ini baru sekitar tiga juta lebih.
Karena itu, Nezar menilai ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi salah satu jembatan antara kebutuhan industri dengan kompetensi yang dipelajari di perguruan tinggi.
Menurutnya, kemampuan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk memastikan kekayaan data Indonesia tidak mudah dieksploitasi oleh pihak yang memiliki kemampuan teknologi lebih tinggi.
“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana dan akan dicuri, akan dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful,” tandasnya.
Penulis : Itaul Hasanah
Editor : Hadi Jakariya



















