LAMPUNG TIMUR – Puluhan petani di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur mulai meninggalkan budidaya sayuran dan beralih menanam tembakau. Perubahan pola tanam itu terjadi dalam beberapa bulan terakhir menyusul ketidakpastian harga komoditas hortikultura yang kerap merugikan petani saat musim panen.
Peralihan tersebut menjadi pilihan baru bagi petani untuk mencari sumber pendapatan yang dinilai lebih menjanjikan dan memiliki kepastian pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Kelompok Petani Tembakau Bandar Agung, Sugino, mengatakan minat petani terhadap komoditas tembakau terus meningkat. Saat ini, kelompok yang dipimpinnya telah membina sekitar 50 petani dari Desa Bandar Agung dan wilayah sekitarnya.
“Sudah ada puluhan hektar lahan yang sebelumnya ditanami cabai, tomat, dan sayuran lain kini dialihkan untuk tembakau. Lebih dari 50 kepala keluarga telah bergabung dan menjadi mitra dalam kelompok kami,” ungkap Sugino, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, keputusan petani beralih ke tembakau tidak lepas dari pengalaman menghadapi anjloknya harga sayuran yang berulang hampir setiap musim panen. Sementara pada budidaya tembakau, petani mendapatkan pola kemitraan yang memberikan kepastian penyerapan hasil panen.
“Kalau sayur, kadang harga jatuh sampai di bawah biaya produksi. Sedangkan dengan tembakau, kami mendapat bimbingan teknis, bantuan sarana produksi, dan hasil panen pasti dibeli mitra. Ini menjadi harapan baru kami,” tambahnya.
Sugino menjelaskan, harga tembakau basah saat ini berada di kisaran Rp3.000 per kilogram. Dengan potensi produksi antara 10 hingga 20 ton per hektare, komoditas tersebut dinilai mampu memberikan keuntungan yang menarik bagi petani. Masa panen dimulai pada usia tanam sekitar 90 hari dan berlangsung hingga tanaman berumur 120 hari.
Meski demikian, ia mengingatkan petani agar tetap memperhatikan keberlanjutan lahan pertanian melalui pola tanam bergiliran.
“Tembakau memang memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi petani tetap disarankan menerapkan pola tanam bergiliran agar kesuburan tanah terjaga dan ketahanan pangan keluarga tetap terjamin,” ujarnya.
Hingga kini, antusiasme petani di kawasan Bandar Sribawono dan sekitarnya terus bertambah. Mereka berharap budidaya tembakau dapat menjadi jalan keluar dari fluktuasi harga hasil pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga di tengah tantangan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Penulis : Hadi Jakariya
Editor : Atika Dian T



















