Jakarta, Freentalk.com — Di tengah banjir ponsel dengan kamera ratusan megapiksel hari ini, nama Nokia Lumia 1020 masih patut untuk dipertimbangkan. Bukan karena nostalgia semata, tapi karena satu fakta yang sulit dibantah, yakni pada tahun 2013 lalu, ponsel ini datang dengan kamera yang terlalu jauh melampaui zamannya.
Hal itu diungkapkan YouTuber teknologi David Brendi lewat kanal YouTube GadgetIn, saat ia akhirnya menjajal langsung Lumia 1020, ponsel yang dulu hanya bisa ia simpan dalam wishlist semasa mahasiswa.
“Ini salah satu HP impian yang enggak bisa saya lupain walaupun dia launching 12 tahun lalu,” ujar David dalam videonya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kamera 41 MP yang Mengguncang Industri Smartphone
Lumia 1020 dirilis Nokia sebagai flagship dengan senjata utama kamera 41 megapiksel, angka yang pada masanya terdengar nyaris absurd.
Saat iPhone 5S masih mengandalkan kamera 8 MP dan Samsung Galaxy S4 di 13 MP, Nokia justru melompat jauh dengan sensor berukuran 1/1,15 inci, sekitar empat kali lebih besar dari sensor iPhone kala itu.
Bahkan, menurut David, ukuran sensor Lumia 1020 bisa melampaui beberapa kamera saku populer seperti Nikon Coolpix dan Canon PowerShot.
Tak heran, Nokia kala itu sampai menggandeng National Geographic sebagai mitra, sesuatu yang nyaris tak terpikirkan untuk sebuah ponsel.
“Ini HP yang bikin saingan macam Samsung, Sony, bahkan iPhone kelihatan kayak bocil kemarin sore,” katanya.
Detail Gambar Tajam Tanpa Bantuan Software Pintar
Di era sebelum istilah computational photography populer, Lumia 1020 mengandalkan kekuatan hardware murni. Hasilnya, foto-foto yang dihasilkan tetap tajam meski di-crop atau di-zoom, berkat teknik lossless zoom dari sensor raksasanya.
Dalam perbandingan dengan iPhone 5C—sama-sama rilis 2013 dan berada di kelas harga serupa, kamera Lumia 1020 terlihat unggul jauh, terutama di kondisi indoor dan minim cahaya.
Detail tekstur, tulisan kecil, hingga objek jauh masih terbaca jelas tanpa bantuan night mode yang saat itu belum eksis.
Xenon Flash dan Mekanisme Ribet yang Kini Punah
Salah satu fitur yang kini nyaris punah adalah xenon flash. Berbeda dari LED flash di ponsel modern, xenon flash Lumia 1020 mampu menerangi ruangan gelap dalam sekejap, dengan intensitas tinggi layaknya kamera profesional.
Namun konsekuensinya tak kecil. Flash ini boros daya, butuh kapasitor besar, dan membuat bodi kamera Lumia 1020 menonjol. Nokia bahkan membenamkan sistem mekanik khusus, termasuk OIS dengan ball bearing, agar sinkronisasi shutter dan flash berjalan presisi.
“Kalau dengar bunyi crack-crek waktu motret, itu bukan gimmick. Emang ada mekanik yang jalan di dalamnya,” ujar David.
Spesifikasi yang Kini Terasa ‘Kentang’
Di luar kamera, spesifikasi Lumia 1020 jelas tertinggal jika diukur dengan standar 2026. Ponsel ini ditenagai Snapdragon S4 Plus dual-core, RAM 2 GB, dan memori internal 32 atau 64 GB. Layarnya AMOLED 4,5 inci HD 768p, lengkap dengan Gorilla Glass 3, NFC, dan baterai 2.000 mAh.
Sistem operasinya, Windows Phone, menawarkan antarmuka ringan dan mulus, namun miskin aplikasi.
Kombinasi hardware kamera kelas dewa dan OS yang minim dukungan inilah yang disebut David menjadi salah satu alasan Lumia gagal bersaing secara komersial.
Terlalu Canggih untuk Masanya
Ironisnya, keunggulan kamera Lumia 1020 justru menjadi kelemahannya. Proses pengolahan foto bisa memakan waktu 2–3 detik setiap kali memotret.
Bagi pengguna yang ingin memotret cepat dan beruntun, ponsel ini jelas bukan pilihan ideal.
“Kesempatannya lebih dikit,” kata David.
Jika dinilai dengan standar sekarang, kualitas kameranya mungkin setara ponsel kelas Rp2–3 jutaan.
Namun cerita, teknologi, dan keberanian Nokia saat itu memberi Lumia 1020 nilai historis yang tak tergantikan.
“Ini HP dengan kamera yang terlalu bagus di zamannya,” ujar David menutup ulasannya.
Penulis : Muh Alfiandi
Editor : Hadi Jakariya
Sumber Berita: YouTube/Gadgetin




















