JAKARTA — Sejumlah kreator belakangan mengeluhkan performa konten yang dinilai makin sulit menembus algoritma YouTube. Ungkapan seperti “algoritma sekarang aneh” hingga “channel kecil makin susah naik” ramai terdengar di penghujung 2025.
Namun anggapan tersebut dibantah oleh seorang YouTuber dari kanal @AVlog-AudioVisualvlog. Melalui unggahan video terbarunya yang diunggah pada Minggu (28/12), ia membagikan sejumlah panduan agar kreator bisa tetap relevan dan bertumbuh pada 2026.
“Akhir-akhir ini banyak kreator yang bilang kayak gini, ‘Algoritma YouTube itu sekarang aneh. Dulu gampang naik, sekarang itu susah banget.’ Tapi pertanyaannya bukan algoritmanya yang berubah atau cara kita ngonten yang tidak ikut berubah,” ujarnya dalam video unggahannya, dikutip Rabu (31/12/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan, lanskap YouTube saat ini sudah jauh berbeda dibanding masa lalu. Persaingan kian padat, durasi perhatian penonton makin pendek, dan algoritma lebih menitikberatkan pada kepuasan audiens, bukan sekadar konsistensi unggahan kreator.
“Teman-teman harus pahami YouTube hari ini itu bukan YouTube di era 3–5 tahun yang lalu. Itu berbeda banget,” katanya.
Algoritma Tak Pilih Kasih Channel
Salah satu mitos yang dibongkar adalah anggapan bahwa algoritma memusuhi channel kecil. Menurutnya, algoritma tidak peduli apakah sebuah channel besar atau kecil.
“Padahal faktanya demikian, Teman-teman, bahwa sebetulnya algoritma itu beneran tidak peduli sama channel kecil atau channel besar,” ucapnya.
“Yang dia pedulikan itu cuma satu. Apakah video kamu ini bikin betah penonton dan penonton itu mau lanjut ke video berikutnya?”
Ia menjelaskan, views awal yang kecil bukan pertanda kegagalan. Algoritma hanya sedang menguji konten ke audiens terbatas. Jika responsnya kuat, distribusi akan diperluas. Jika lemah, distribusi dihentikan.
Fokus Hook, Cerita, dan Kejelasan Topik
Menuju 2026, ia menekankan tiga hal utama yang wajib diperhatikan kreator.
“Fokus di tahun 2026 yang teman-teman harus lakukan itu yang pertama adalah buatlah konten dengan hook 30 detik pertama yang kuat,” katanya.
“Kedua, buatlah konten yang punya struktur cerita… Ketiga, kejelasan topik sejak awal.”
Ketiga aspek tersebut dinilainya krusial dalam menjaga perhatian penonton sejak awal video.
Konsisten Penting, Tapi Kualitas Lebih Utama
Mitos lain yang diluruskan adalah soal konsistensi upload. Ia menilai unggah rutin tetap penting, namun bukan segalanya.
“YouTube itu lebih menghargai kepada satu video yang performanya bagus daripada lima video yang diabaikan penonton,” ujarnya.
Ia menyarankan kreator lebih baik mengunggah satu hingga dua video berkualitas per minggu dibanding mengejar jadwal harian dengan kualitas rendah.
CTR dan Retention Tak Lagi Cukup
Menurutnya, pada 2026 algoritma tidak hanya membaca CTR dan retention. Faktor kepuasan penonton menjadi kunci baru.
“Sekarang ini algoritma itu juga melihat apa yang disebut dengan namanya viewer satisfaction,” katanya, termasuk lonjakan penonton, rewatch, komentar bermakna, serta apakah penonton melanjutkan ke video lain dalam satu channel.
Ia juga mengingatkan agar kreator tidak terjebak judul clickbait tanpa isi. “Kalau kamu sering bikin judul yang clickbait dan isinya kosong, penonton pelan-pelan akan ninggalin kamu dan channel kamu itu akan mati pelan-pelan,” ujarnya.
Short Tidak Merusak Channel
Ia turut membantah anggapan bahwa video pendek merusak channel video panjang. Menurutnya, short justru bagian dari strategi ekosistem konten jika diarahkan dengan benar.
“Short itu seperti brosur pamflet… pintu masuk untuk orang mau masuk ke channel kamu,” katanya, seraya menekankan short harus terhubung dengan konten utama.
YouTube Bukan Permainan Jangka Pendek
Mitos terakhir yang disoroti adalah anggapan channel sepi berarti tamat. Ia menegaskan YouTube adalah platform jangka panjang.
“Bisa aja video ini mati 3 bulan… tapi dia bisa hidup lagi di 6 bulan sesudahnya,” ujarnya.
Menurutnya, channel benar-benar mati hanya jika kreator berhenti belajar, berhenti mengunggah, dan berhenti evaluasi.
Menutup videonya, ia menyebut algoritma YouTube kini semakin mirip manusia. Ia menilai konten berdasarkan kejujuran, relevansi, arah channel, serta apakah waktu penonton terasa berharga.
“Algoritma YouTube itu sebetulnya bukan musuh. Dia ini sebetulnya cuman cermin dari bagaimana penonton kita itu bereaksi ke konten kita,” pungkasnya.
Penulis : Hadi Jakariya
Editor : Hadi Jakariya
Sumber Berita: YouTube/@AVlog-AudioVisualvlog




















