LAMPUNG TIMUR – Pemerintah Provinsi Lampung bersama PT Olam Indonesia (OFI) dan sejumlah pemangku kepentingan meluncurkan Program Inisiasi Regeneratif MUK Restorasi Lanskap Perhutanan Sosial di Desa Sri Josari, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, Rabu (15/7/2026).
Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konservasi hutan melalui pengembangan perhutanan sosial dan sistem agroforestri berkelanjutan yang diharapkan mampu menjaga kelestarian kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peluncuran program dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Sulpakar. Setelah seremoni pembukaan, seluruh pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, swasta, kelompok tani hutan, hingga masyarakat melakukan penandatanganan komitmen sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon bambu di sepanjang bantaran Sungai Way Abar yang bermuara ke Danau Way Jepara. Penanaman dilakukan sebagai langkah konservasi untuk menjaga kualitas dan ketersediaan sumber daya air dalam jangka panjang sekaligus mengurangi risiko abrasi di sepanjang aliran sungai.
Head of Cocoa Sustainability Indonesia, Imam Suharto, mengatakan kawasan Gunung Balak di Lampung Timur memiliki potensi besar untuk pengembangan perhutanan sosial karena berada di wilayah Register 38. Menurutnya, OFI telah menjalin kerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung sejak 28 Desember 2025 untuk mengembangkan program restorasi lanskap berbasis agroforestri.
“Program ini bukan hanya penghijauan kembali kawasan hutan, tetapi juga membangun ekonomi masyarakat melalui komoditas kakao dan alpukat di lahan perhutanan sosial. Tahun 2026 menjadi tahap perencanaan, kemudian pada 2027 kami akan memulai proyek percontohan terhadap 5.000 petani dari total 18 ribu petani sasaran. Sisanya akan diberdayakan secara bertahap hingga 2030, sementara program keseluruhan ditargetkan berjalan sampai 2040,” kata Imam.
Ia menjelaskan pendekatan agroforestri dipilih karena mampu menjaga tutupan hutan tanpa menghilangkan fungsi ekonomi bagi masyarakat. Pendampingan terhadap petani juga akan dilakukan secara berkelanjutan agar hasil produksi memenuhi kebutuhan pasar global.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Sulpakar, menyatakan pemerintah menyambut baik kolaborasi dengan PT Olam Indonesia dalam membangun hutan yang lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Kami ingin program ini benar-benar berjalan di lapangan, bukan hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Dibutuhkan komitmen semua pihak, terutama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai garda terdepan dalam mendampingi masyarakat. Kelestarian hutan harus tetap terjaga, sementara petani memperoleh manfaat ekonomi dari komoditas kakao yang dikembangkan,” ujar Sulpakar.
Menurutnya, kerusakan hutan yang terus terjadi dapat memicu bencana alam sekaligus menghilangkan sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, kelompok tani hutan diharapkan tetap menjaga kelestarian kawasan sambil mengembangkan usaha produktif sehingga manfaat ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan.
Landscape Expert OFI UK, Dr. Christopher Steward, mengatakan Indonesia memiliki sekitar 5.000 spesies tanaman yang berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari program konservasi. Ia menegaskan penanaman pohon tidak hanya bertujuan menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi langkah nyata menghadapi krisis iklim.
“Kami adalah pelaku bisnis global yang membutuhkan ribuan ton kakao dan berbagai komoditas rempah. Kebutuhan itu harus dipenuhi tanpa merusak hutan. Karena itu kami ingin mendampingi petani agar mampu meningkatkan produksi sekaligus menjaga kelestarian hutan. Jika program ini berhasil, emisi karbon dioksida dapat ditekan hingga sekitar 30 persen,” kata Christopher.
Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Program Restorasi Lanskap Perhutanan Sosial di Lampung diharapkan menjadi model pembangunan berbasis konservasi yang mampu menjaga hutan tetap hijau, memperkuat ketahanan iklim, sekaligus menciptakan sumber ekonomi berkelanjutan bagi ribuan petani di kawasan hutan Lampung Timur.
Penulis : Agus S
Editor : Hadi Jakariya



















