Data Komdigi: Setengah Anak Indonesia Terpapar Konten Seksual

Komdigi menyebut 50,3 persen anak terpapar konten seksual di ruang digital, sementara 48 persen mengalami kekerasan gender berbasis online.

- Penulis Berita

Rabu, 27 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💵 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar, menyampaikan paparan terkait tingginya risiko anak di ruang digital dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026)./Komdigi go id

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar, menyampaikan paparan terkait tingginya risiko anak di ruang digital dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026)./Komdigi go id

JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital mengungkap 50,3 persen anak Indonesia terpapar konten bermuatan seksual melalui media sosial. Angka itu menjadi alarm baru di tengah masifnya penggunaan internet oleh anak-anak dan remaja di ruang digital.

Seperti dikutip dari Komdigi, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar, menyebut paparan konten seksual hingga kekerasan berbasis gender online kini terjadi pada jutaan anak Indonesia.

“50,3 persen anak terpapar konten bermuatan seksual melalui media sosial, jadi kebayang teman-teman, dari 80 juta itu setengahnya terpapar. Dari 80 juta, 48 persen mengalami kekerasan gender berbasis online,” ungkapnya dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Garuda Spark Innovation Hub, Senin (25/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Alfreno, perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membawa tantangan baru terhadap pelindungan anak di internet. Kelompok usia anak disebut menjadi salah satu yang paling rentan terhadap berbagai ancaman digital.

Ia menjelaskan terdapat dua risiko besar yang kini mengintai anak-anak di ruang digital, yakni risiko konten dan risiko kontak.

Risiko konten muncul ketika anak memiliki akses bebas ke media sosial sehingga berpotensi terpapar berbagai jenis konten negatif.

“Anak-anak dengan adanya akses ke media sosial bisa terpapar konten apapun itu, mau negatif, positif, semua jadi yurisdiksinya anak-anak itu sendiri,” jelas Alfreno.

Sementara risiko kontak terjadi ketika anak-anak berinteraksi dengan orang asing melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Kondisi itu dinilai berbahaya karena dapat membuka ruang masuknya informasi buruk hingga potensi pelecehan terhadap anak.

“Hari ini enggak sedikit anak-anak kita bisa ngobrol sama orang yang enggak dikenal, setelah itu dicekoki informasi-informasi yang buruk, seperti radikalisme. Selain itu, juga bisa terjadi pelecehan anak,” imbuhnya.

Sebagai langkah pengawasan ruang digital anak, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.

Alfreno menegaskan regulasi tersebut bukan untuk membatasi kreativitas generasi muda, melainkan mencegah anak-anak terjebak dalam risiko digital yang semakin kompleks.

“Kita enggak pernah mau membatasi inovasi untuk anak muda. Kita cuma mau anak muda itu mengerti apa yang benar dan salah. Kita cuma ingin anak-anak muda Indonesia itu terjauhkan dari risiko, tapi kita enggak menunda inovasi,” tandasnya.

Penulis : Itaul Hasanah

Editor : Atika Dian T

Sumber Berita: Komdigi

Follow WhatsApp Channel freentalk.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PHE OSES Kembangkan Demplot Mangrove 2 Hektare untuk Lindungi Pesisir Lampung Timur
Mantan Jurnalis Tempo Danya Dewanti Jadi Head Comrel and CID PHE OSES
KKL Wilhan Karhutla Serahkan Hasil Penelitian
KKL Binsat Dikreg LXVIII Seskoad Tinjau Kesiapan Operasional Yonif TP 943/DPC
Cegah Karhutla Meluas, Warga Lampung Timur Diajak Kenali Sumber Api
Musim Kemarau Tiba, Warga Lampung Timur Diminta Tak Bakar Lahan
Kejar Swasembada Pangan, Kementan Percepat Tanam Serentak di 25 Provinsi
PALUGADA PHE OSES Olah 2,6 Ton Sampah Jadi Pakan Ikan, Omzet Capai Rp14,7 Juta per Siklus

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:10 WIB

PHE OSES Kembangkan Demplot Mangrove 2 Hektare untuk Lindungi Pesisir Lampung Timur

Selasa, 22 September 2026 - 01:32 WIB

Mantan Jurnalis Tempo Danya Dewanti Jadi Head Comrel and CID PHE OSES

Sabtu, 5 September 2026 - 18:35 WIB

KKL Wilhan Karhutla Serahkan Hasil Penelitian

Kamis, 3 September 2026 - 18:13 WIB

KKL Binsat Dikreg LXVIII Seskoad Tinjau Kesiapan Operasional Yonif TP 943/DPC

Rabu, 2 September 2026 - 15:22 WIB

Cegah Karhutla Meluas, Warga Lampung Timur Diajak Kenali Sumber Api

Berita Terbaru

Berita Terbaru Lampung Timur

IWO Lampung Timur Sosialisasi Hoaks dan Kekerasan Anak di SMPN 1 Labuhan Maringgai

Jumat, 7 Nov 2025 - 13:06 WIB

Tim KKL Wilhan Karhutla Dikreg LXVII Seskoad menyerahkan hasil penelitian kepada Pemda dan Kodim Lampung Timur, Sabtu (5/9/2026). Foto: Agus S

Nasional

KKL Wilhan Karhutla Serahkan Hasil Penelitian

Sabtu, 5 Sep 2026 - 18:35 WIB