JAKARTA – Ustaz Hanan Attaki mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam rasa bersalah berkepanjangan akibat kesalahan dan kegagalan di masa lalu. Kondisi itu, menurutnya, kerap berujung pada overthinking, menyalahkan diri sendiri, hingga muncul kebencian terhadap diri sendiri.
Hal tersebut disampaikan Hanan Attaki (UHA) dalam kajian yang diunggah melalui kanal YouTube @HananAttaki. Dalam kajian itu, ia menegaskan bahwa Islam justru mengajarkan umatnya untuk berdamai dengan masa lalu, bukan terperangkap di dalamnya.
“Teman-teman yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Banyak dari kita yang kadang enggak bisa e memaafkan diri kita sendiri ketika kita pernah melakukan kesalahan di masa lalu atau pernah gagal dalam sebuah urusan, sebuah project,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, kegagalan tersebut sering kali membuat seseorang larut dalam rasa bersalah yang berlebihan. “Sehingga akhirnya kita larut dalam rasa bersalah, larut dalam eh overthinking eh menyalahkan diri sendiri dan benci kepada diri sendiri,” katanya.
Larangan Berandai-andai dengan Masa Lalu
Hanan menjelaskan, Islam memberi panduan jelas agar umat tidak terus-menerus berandai-andai terhadap masa lalu. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang sikap seorang mukmin ketika tertimpa musibah.
“Kata Nabi, ‘Tidaklah seorang mukmin mengalami sebuah musibah dalam hidupnya.’ Atau jika seorang mukmin mengalami sebuah musibah dalam hidupnya, janganlah dia mengatakan, ‘Lau annii fa’altu kadzaa wa kadzaa. Seandainya aku melakukan begini dan begini, mungkin enggak akan begitu.’ Ee tapi katakanlah ini adalah takdir Allah. Apa yang Allah kehendaki maka terjadi.”
Menurut Hanan, hadis tersebut menjadi panduan agar manusia tidak tenggelam dalam penyesalan yang tak berujung. “Allah enggak suka kita hanya berandai-andai tentang masa lalu dan larut dalam rasa bersalah yang berlebihan,” terangnya.
Ia juga mengingatkan pesan Alquran bahwa segala musibah telah tercatat sebelum terjadi. “Supaya kalian jangan menjadi orang yang terus berputus asa tentang apa yang sudah terjadi. Maksudnya kayak jadi orang yang larut dalam kesedihan dan rasa bersalah yang berlebihan,” kata UHA.
Self Love dalam Teladan Rasulullah
Lebih jauh, Hanan Attaki menekankan bahwa Islam tidak membebani manusia dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya, termasuk masa lalu.
“Sesungguhnya Islam itu la yukallifulahu nafsan illa wusaha, tidak pernah membebani kita tentang sesuatu yang di luar kemampuan kita, yaitu salah satunya masa lalu,” ucapnya.
Dari sini, ia mengaitkan konsep self love sebagai bagian dari ajaran Islam. Menurutnya, Rasulullah SAW memberi teladan nyata dalam menjaga kebutuhan fisik, mental, dan emosional.
“Nabi juga sangat memperhatikan self love diri beliau,” kata UHA.
Ia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW memperhatikan penampilan, termasuk rambutnya. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Nabi disebut memiliki tiga gaya rambut: wafrah, limmah, dan jummah.
“Ini menunjukkan kalau Nabi itu juga ada waktu buat memikirkan rambutnya,” jelasnya.
Bahkan, saat beriktikaf di Masjid Nabawi pada 10 malam terakhir Ramadan, Nabi masih meminta Aisyah RA untuk menyisir rambutnya.
“Dan ini menunjukkan bahwa Nabi masih mikirin tentang kebutuhan rambutnya,” tuturnya.
Kesehatan Mental dan Kehidupan yang Kalem
Hanan juga menyinggung bagaimana Allah memerintahkan Nabi untuk menjaga kesehatan mentalnya ketika menghadapi tekanan dan perlakuan verbal yang menyakitkan. Salah satunya melalui perintah salat malam.
“Melakukan ibadah di malam hari itu lebih kerasa tenang di hatinya dan lebih kerasa mudah untuk mentadaburi ayat-ayatnya,” ujar UHA.
Ia menegaskan bahwa Rasulullah SAW bukan sosok yang kaku, tetapi menjalani hidup dengan seimbang. “Artinya nabi itu enggak sekaku yang kita bayangin. Kalem aja kehidupan beliau,” katanya.
Menutup kajiannya, Hanan mengajak umat Islam untuk memberikan hak secara proporsional, termasuk hak terhadap diri sendiri. “Jadi, yuk kita jalanin Ramadan ini secara kalem dengan khidmat sehingga insyaallah Ramadan kita menjadi Ramadan kalem yang berkah di sisi Allah Subhanahu wa taala,” pungkasnya.
Penulis : Itaul Hasanah
Editor : Hadi Jakariya




















