Freentalk.com – Gajah kerap dijadikan metafora kebesaran. Besar badannya, besar pula kesannya. Namun di balik tubuh kolosal itu, ada serangkaian fakta ilmiah yang tak banyak diketahui publik.
Merujuk penjelasan dari kanal YouTube National Geographic Indonesia (@NatGeo-Indonesia), gajah bukanlah satu jenis tunggal. Setidaknya ada tiga spesies gajah yang masih hidup di dunia saat ini: gajah sabana Afrika (Loxodonta africana), gajah hutan (Loxodonta cyclotis), dan gajah Asia (Elephas maximus) Masing-masing memiliki ukuran tubuh, bobot, dan karakteristik yang berbeda.
Gajah sabana Afrika, sering disebut gajah semak Afrika, menyandang status sebagai mamalia darat terbesar di Bumi. Tingginya bisa mencapai 3 hingga 4 meter, dengan bobot rata-rata hingga 9 ton. Jantan tumbuh jauh lebih besar dibanding betina. Bahkan, individu terbesar yang pernah tercatat memiliki tinggi sekitar 4 meter dan berat mencapai 11 ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di bawahnya ada gajah hutan. Ukurannya lebih ramping dan pendek. Gajah jantan jenis ini rata-rata memiliki tinggi 2,1 hingga 2,7 meter, sementara betinanya berkisar 1,5 hingga 2,1 meter. Bobot keduanya relatif sama, berada di kisaran 2 hingga 4 ton.
Sementara itu, gajah Asia menjadi yang paling kecil di antara ketiganya. Tingginya berkisar antara 1,8 hingga 2,7 meter dengan berat 2 hingga 5 ton.
Gajah Asia memiliki tiga subspesies, yakni gajah India, Sri Lanka, dan Sumatra. Dari ketiganya, gajah Sumatra tercatat sebagai yang paling kecil.
Ukuran raksasa ini kerap memunculkan anggapan keliru. Banyak orang percaya gajah berevolusi langsung dari mamut berbulu. Padahal, menurut ilmuwan, gajah modern dan mamut berbulu hanya memiliki nenek moyang yang sama, sekitar enam juta tahun lalu.
Dari titik itulah garis evolusi mereka berpisah. Menariknya, gajah Asia justru dianggap lebih dekat secara genetik dengan mamut berbulu dibandingkan gajah Afrika.
Lalu, mengapa gajah berevolusi menjadi begitu besar?
Salah satu teori utama menyebut ukuran tubuh raksasa sebagai strategi bertahan hidup. Tubuh besar memberi keuntungan: perlindungan dari predator, kemampuan menyimpan lemak dan air lebih banyak, sistem pencernaan yang efisien, hingga kapasitas otak yang lebih besar. Dalam konteks evolusi, menjadi besar adalah tiket bertahan hidup.
Namun, ukuran tersebut juga membawa konsekuensi. Gajah membutuhkan asupan makanan yang sangat besar, yakni sekitar 90 hingga 272 kilogram per hari. Untuk memenuhi kebutuhan itu, gajah menghabiskan 12 hingga 18 jam hanya untuk makan, dengan waktu tidur yang relatif singkat.
Masalah muncul ketika habitat mereka menyusut. Penggundulan hutan dan perambahan manusia membuat banyak gajah kehilangan akses ke sumber pakan alami.
Kondisi ini memicu konflik, mulai dari perusakan lahan pertanian hingga ancaman keselamatan, baik bagi manusia maupun gajah itu sendiri.
Ukuran besar juga menuntut ruang jelajah luas. Tanpa ruang yang cukup, gajah rentan mengalami gangguan kesehatan.
Bahkan di kebun binatang, gajah harus dijaga tetap aktif dengan pola makan ketat. Kelebihan berat badan pada gajah terbukti dapat mengganggu kesehatan hingga siklus reproduksi mereka.
Penulis : Atika Dian Trihatno
Editor : Atika Dian Trihatno
Sumber Berita: YouTube/@NatGeo-Indonesia




















