JAKARTA — Ustaz Hanan Attaki (UHA) menekankan pentingnya memahami konsep takdir dan karunia dalam Islam agar seseorang tidak terjebak dalam penilaian orang lain maupun rasa iri yang melemahkan diri. Hal itu disampaikan dalam kajiannya yang diunggah di kanal YouTube @HananAttaki, dikutip pada Senin (15/12/2025).
Dalam kajian tersebut, UHA menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada penilaian orang, melainkan pada kepercayaan seseorang terhadap penilaian itu sendiri.
“terserah orang mau nilai apa. Kita percaya enggak? Kalau kita percaya, jadi kita terjebak dalam penilaian orang. Kalau kita enggak percaya, enggak apa-apa. Enggak jadi apa-apa kan? Iya,” terangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
UHA kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pandangan para ulama mengenai takdir manusia. Menurutnya, setiap orang telah memiliki jatah, jalan, dan rezeki masing-masing yang tidak bisa dibandingkan secara serampangan.
Ia mengutip firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 32 yang menegaskan larangan iri hati atas karunia yang diberikan Allah kepada orang lain, sekaligus perintah untuk meminta langsung kepada-Nya.
“Ini kan yang tadi aku bilang enggak semuanya kita bisa. Itu emang bagian dia. Bagian aku enggak di situ. Jadi aku enggak perlu iri. Diatas rumput aku emang bukan bagian aku,, aku bagian ikan,” jelas UHA.
Untuk mempermudah pemahaman, UHA menggunakan analogi populer dari anime Demon Slayer. Menurutnya, tidak semua orang harus menjadi “petir” jika memang takdirnya adalah “air”.
“Udah nonton Demon Slayer? Jurus air gitu kan. Aku mah Giyu gitu kan. Jadi bukan bukan enggak harus jadi petir. Ya udah petir petir aja aku mah giyu,” katanya.
UHA menekankan bahwa kunci utama dalam menghadapi rasa minder dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain terletak pada perintah Was’alullâha min fadllih, meminta karunia langsung kepada Allah.
“Janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kalian atau sebagian yang lain. Was’alullâha min fadllih. Ini kata kuncinya,” jelas UHA.
Ia menilai, melihat kelebihan orang lain kerap menjadi pemicu self-doubt yang berujung pada sikap merendahkan diri sendiri.
“Ketika kalian ngelihat orang lain punya kelebihan, kan ini salah satu trigger selfd nih. Heeh. Wah, dia mah lebih. Aku mah apalah apa tuh gitu. Dia mah gini, aku mah apa. Jangan kayak gitu,” kata dia.
Menurut UHA, alih-alih iri, seseorang seharusnya ikut meminta kepada Allah karena seluruh kelebihan berasal dari-Nya.
“Kalau kalian melihat orang lain punya kelebihan, kalian minta juga,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki “jatah” masing-masing yang tidak akan tertukar, sehingga tidak ada alasan untuk iri atau mematahkan diri sendiri.
“Mintalah jatah kalian. Kenapa kalian malah iri dengan jatah orang atau malah jadi eh self dog ke diri kalian sendiri?,” terang UHA.
UHA juga mengingatkan bahwa doa merupakan bentuk call to action yang nyata, bukan sekadar pasrah tanpa usaha.
“Nah, call to action-nya Was’alullâha min fadllih. Mintalah karunia Allah. Karena semua kita tuh dikasih karunia yang berbeda-beda. Tinggal kamu minta,” jelasnya.
Ia bahkan membagikan salah satu doa yang kerap ia amalkan sebagai bentuk permohonan karunia dan petunjuk.
“kalau aku salah satu cara minta karunia itu adalah “Rabbana atina milladunka rahmatan wa hayyi lana min amrina rashada” Petunjuk gitu,” kata UHA.
Menurutnya, Allah Maha Mengetahui apa yang paling sesuai untuk setiap hamba-Nya.
“Allah tahu aku tahu semua kita. Allah kenal kita lah. Jadi enggak akan dikasih yang enggak cocok buat aku karunianya,” ungkap UHA.
UHA menutup kajian tersebut dengan analogi sederhana tentang nasi bungkus, untuk menggambarkan betapa tidak relevannya rasa iri.
“Ngapain kamu iri sama orang yang baru dapat nasi bungkus atau nasi gratis? Mending kamu pergi ke tempat itu, kamu juga nanti akan dikasih gitu kan.” jelasnya.
Baginya, selama seseorang meminta kepada Allah dengan benar, karunia itu pasti akan datang, meski waktu dan caranya berbeda.
“Kalau teman dikasih karunia berarti kita juga dikasih. Tinggal kita minta. Tapi Allah maha tahu kapan dan bagaimana. Yang pasti dikasih,” terangnya.
Penulis : Atika Dian Trihatno
Editor : Hadi Jakariya
Sumber Berita: YouTube/@HananAttaki




















