LAMPUNG TIMUR – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Lampung, Edi Arsadad, menegaskan bahwa mahasiswa tetap menjadi benteng terakhir demokrasi Indonesia. Namun, ia memperingatkan bahwa pola pembungkaman terhadap suara kritis mahasiswa terus berevolusi dari era ke era.
Pernyataan itu disampaikan Edi dalam seminar bertajuk “Gerakan Mahasiswa dan Politik Pembungkaman” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Institut Bakti Nusantara (IBN) Lampung, Senin (8/12/2025).
“Pembungkaman kini tidak lagi hanya dengan kekerasan fisik, tapi juga lewat kriminalisasi, UU ITE, doxing, dan tekanan birokrasi kampus,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa di Aula Kampus IBN, Lampung Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Edi menguatkan peringatannya dengan data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) periode 2020–2024, yang mencatat lebih dari 1.200 orang dikriminalisasi karena menyuarakan kritik. Khusus tahun 2024–2025 (hingga November), lebih dari 150 mahasiswa terjerat UU ITE, dan 80 persen kasus ujaran kebencian justru menimpa pengkritik penguasa.
Menghadapi pola represi yang berubah, Edi Arsadad memberikan sejumlah strategi agar gerakan mahasiswa tetap hidup dan efektif, yakni dengan menghidupkan kembali kultur diskusi dan baca buku di kampus, menguasai dan mengisi ruang-ruang advokasi di media sosial secara cerdas, membangun aliansi strategis dengan LBH, jurnalis independen, buruh, petani, nelayan, dan masyarakat adat, serta memperkuat jaringan antar-kampus lintas provinsi.
Ia juga menekankan pondasi perjuangan yang harus dijaga. “Pondasi perjuangan mahasiswa itu lima independensi (tidak boleh jadi kepanjangan tangan partai atau oligarki), intelektualitas (selalu berbasis data dan analisis mendalam), moralitas (jujur, bersih, konsisten), kolektivitas (bukan gerakan personal atau heroik), serta keberlanjutan melalui kaderisasi yang terencana,” tegas Edi.
Koordinator BEM FEB IBN, M. Adam Mauladani, menyatakan seminar tersebut menjadi pengingat penting.
“Seminar ini menjadi alarm bagi kami. Kami tidak boleh diam melihat demokrasi terus terkikis,” ujarnya usai acara yang berlangsung hingga siang hari dan diwarnai sesi tanya jawab yang hidup.




















