Kebiasaan kucing tidur di atas dada atau menyelinap ke celah-celah tubuh manusia sering dianggap sebagai perilaku manja. Namun, dalam kajian perilaku hewan, tindakan tersebut memiliki makna yang lebih kompleks. Sejumlah publikasi ilmiah dan lembaga spesialis hewan memetakan bahwa pilihan posisi tidur kucing berkaitan erat dengan rasa aman, komunikasi sosial, hingga proses adaptasi mereka selama domestikasi.
Menurut rangkuman kajian perilaku kucing domestik yang diterbitkan American Association of Feline Practitioners, fase tidur merupakan kondisi paling rentan bagi kucing. Karena itu, mereka hanya memilih lokasi yang dianggap bebas ancaman.
Ritme napas manusia, kehangatan dada, serta getaran detak jantung menciptakan lingkungan yang stabil sehingga diinterpretasikan kucing sebagai tempat berlindung. Pola ini mirip dinamika kelompok kucing di alam, ketika individu tidur saling menempel untuk menjaga keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penelitian dalam International Journal of Animal Behavior juga menguraikan bahwa kucing menggunakan kontak tubuh sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Ketika mereka tidur di antara lengan atau kaki manusia, kucing sedang menandai ruang aman yang telah tervalidasi oleh aroma manusia.
Feromon yang menempel selama kontak fisik menjadi indikator bahwa area tersebut dapat dipertahankan sebagai wilayah kepercayaan. Perilaku ini bekerja layaknya grooming dalam kelompok kucing, yang berfungsi membentuk keterikatan sosial.
Temuan lain dari Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA) menunjukkan bahwa kucing adalah spesies yang sangat responsif terhadap perubahan suhu. Tubuh manusia menyediakan panas konstan, terutama pada area dada yang mengalirkan suhu lebih tinggi.
Posisi tidur ini membantu kucing mempertahankan temperatur ideal tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mekanisme tersebut biasanya terlihat juga pada induk dan anak kucing di alam liar.
Aspek kelekatan emosional menjadi faktor kuat lain yang dipetakan University of Lincoln, Inggris. Kajian mereka menunjukkan bahwa relasi manusia-kucing dapat menyerupai pola attachment pada spesies sosial.
Kucing membentuk preferensi terhadap individu yang memberikan konsistensi interaksi. Ketika mereka memilih tidur menempel sedekat itu, tindakan tersebut mencerminkan tingkat kenyamanan dan kelekatan yang relatif tinggi.
Kebiasaan kucing masuk ke celah tubuh manusia memiliki penjelasan etologis tersendiri. Studi mengenai preferensi confined spaces pada kucing menemukan bahwa ruang sempit menciptakan efek perlindungan psikologis.
Celah antara lengan, lutut, atau sisi tubuh manusia memberikan sensasi terlindung sebagian, mirip struktur gua kecil. Dari posisi tersebut, kucing merasa bisa beristirahat sekaligus tetap memantau lingkungan tanpa terekspos.
Secara evolusioner, kedekatan fisik ini dianggap sebagai salah satu adaptasi sosial kucing selama proses domestikasi. Kajian yang dipublikasikan National Academy of Sciences menunjukkan bahwa meski genetis kucing domestik sangat dekat dengan kucing liar Afrika, interaksi berkepanjangan dengan manusia memunculkan modifikasi perilaku. Mereka mengembangkan toleransi lebih besar terhadap kedekatan fisik, bahkan menjadikannya bagian dari mekanisme pencarian kenyamanan.
Sisi kesehatan juga menjadi sorotan sejumlah kajian yang dihimpun Human-Animal Bond Research Institute (HABRI). Tidur dekat manusia berdampak pada menurunnya tingkat stres kucing akibat stimulasi sistem saraf parasimpatis. Kontak hangat ini memfasilitasi relaksasi mendalam, membuat kucing lebih tenang setelah periode tidur panjang.
Meski demikian, tidak semua kucing menunjukkan preferensi yang sama. Pengalaman masa kecil, lingkungan rumah, serta kondisi kesehatan bisa membuat beberapa kucing memilih tidur jauh dari manusia. Namun pola umum tetap konsisten di berbagai literatur, ketika kucing menempatkan tubuhnya di atas dada atau di celah-celah tubuh manusia, tindakan itu merupakan indikator rasa percaya dan hubungan emosional yang kuat.
Pilihan posisi tidur tersebut menjadi sinyal bahwa hubungan manusia dan kucing telah mencapai tahap stabil.
Tanpa suara dan tanpa perlu gestur besar, kucing menyampaikan bahwa mereka merasa aman di titik paling sunyi kehidupan kita, ketika kita sedang beristirahat.
Di ruang itu, kedekatan bukan hanya kebiasaan, tetapi bentuk komunikasi yang terus dibangun antara dua spesies yang belajar hidup berdampingan.
Penulis : Itaul Hasanah
Editor : Hadi Jakariya




















